Medan – Nomor alamat rumah mengarah di WhatsApp Grup,( WAG ) diiduga telah terjadi perundungan, Maha Rajagukguk, Wakil Ketua DPD Parsadaan Pomparan Raja Lontung (PPRL ) mengamati hal tersebut dan menyayangkan perbuatan hati seorang perempuan yang kita sebut saja namanya Bunga, sebenarnya sederhana serta peduli. Dengan langkah kakinya sering kali terhenti hanya untuk menyodorkan segenggam makanan bagi kucing-kucing liar yang melintas di sekitar kompleks perumahan.
Namun, siapa yang menyangka, uluran tangan yang penuh empati itu justru berbalik menjadi kepedihan. Tanpa ia sadari dan tanpa ada dirinya di dalamnya, namanya justru dijadikan bahan gunjingan panas di sebuah WhatsApp Group (WAG) warga setempat. Di tengah kesibukan aktivitas, nuraninya tergerak setiap kali melihat hewan mungil yang lapar ia pun dengan sukarela memberi makan. Tetapi kalimat di grup langsung mengarah ke nomor rumahnya.
Menanggapi hal tersebut Wakil Ketua DPD Parsadaan Pomparan Raja Lontung (PPRL) Maha Rajagukguk, menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa aksi kepedulian dengan sukarela terhadap hewan melintas tidak bisa dijadikan alasan untuk melayangkan tuduhan sesat sesaat, apalagi sampai terjadi dugaan perundungan dan menyerang kehormatan orang lain.
Pola sindiran yang diulang-ulang di ruang publik seperti ini dinilai sangat berbahaya bagi kehormatan seseorang, tidak ada aturan yang melarang seseorang memberikan makan kepada kucing yang lapar. Jangan karena seseorang memberi makan kucing kemudian seluruh persoalan yang berkaitan dengan kucing dibebankan kepadanya,” tegas maha.
Menurutnya penyelesaian masalah lingkungan sejatinya membutuhkan kepala dingin dan gotong royong, bukan sindiran di balik layar ponsel apalagi ke WAG. Keberadaan kucing liar adalah tanggung jawab bersama seluruh penghuni kawasan perumahan. Bukan menimbun opini negatif atau membangun stigma buruk terhadap seorang warga, ini jelas melukai rasa keadilan dan mengoyak keharmonisan hidup bertetangga.
Apalagi pernah dialami salah satu warga dengan nasib serupa akibat insiden tak disengaja, di jalan kompleks pada suatu malam. Kala itu, kendaraan yang dibawanya melindas gagang sekop dan kabel sambungan listrik milik warga saat tergeletak di jalan dan pernah juga acara karaoke hingga mengganti seluruh kerugian barang yang rusak, peristiwa usang itu terus terungkit dan dijadikan bahan untuk menyudutkan dirinya kembali.
Maha mengingatkan, sesama warga tidak memelihara prasangka buruk dan menyebarkan tuduhan tanpa dasar yang sah atau pun opini negatif. Kalau ada persoalan antarwarga, selesaikan secara baik-baik. Karna prilaku perundungan di ruang digital tidak bisa dibiarkan begitu saja akan dampak psikologis dan pencemaran nama baik atau dijadikan bahan untuk menyudutkan seseorang. Kita harus berhati-hati di sebuah pembicaraan di berbagai grup, bisa berkembang menjadi opini yang merugikan buat orang lain. ‘ujar Maha.
Menurutnya, Group percakapan warga seharusnya difungsikan untuk mempererat silaturahmi, menyampaikan informasi positif, dan merumuskan solusi atas masalah bersama secara proporsional dan untuk saling menjaga etika di dunia maya. Apalagi di dalam suatu komplek pasti kan ada penjaga atau orang keamanan yang berjaga di pos perumahan komplek tersebut. ” Tegasnya.














