Medan – Suasana haru dan penuh rasa syukur menyelimuti keberangkatan Said bersama sang istri menuju Tanah Suci. Di depan pintu rumah sederhana mereka, dua koper telah siap dibawa. Namun bukan kemewahan yang tampak dari isi koper tersebut, melainkan kesederhanaan yang sarat makna.
“Isinya ihram, mukena, Al-Qur’an kecil, dan obat. Tidak penuh oleh-oleh. Tapi hati kami penuh. Penuh syukur karena Allah mampukan hamba-Nya,” ungkap Said dengan mata berkaca-kaca menggambarkan rasa bahagia yang tak dapat diukur dengan materi.
Bagi Said, perjalanan ibadah haji ini bukanlah hasil dari kelapangan finansial semata. Ia menegaskan bahwa dirinya hanyalah seorang staf pengajar biasa, yang secara hitungan manusia mungkin belum tergolong mapan untuk menunaikan ibadah haji.
“Saya hanya staf pengajar. Tapi Allah ajari saya satu rumus: Niat + Istikamah = Jalan. Bukan gaji yang memberangkatkan kami, tapi keyakinan bahwa kalau sudah niat, langit pun akan ikut mendoakan,” tuturnya penuh keyakinan.
Kisah Said menjadi inspirasi tersendiri bagi banyak orang, khususnya mereka yang masih ragu untuk mendaftar haji karena keterbatasan biaya. Ia berpesan agar tidak menunda niat baik hanya karena merasa belum mampu secara materi.
“Percayalah, Mulai saja dulu dari niat sehari. Allah tidak tidur. Dia lihat setiap koin yang kamu sisihkan sambil menyebut nama-Nya,” pesannya dengan penuh harap.
Keberangkatan Said dan istri bukan hanya menjadi perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan spiritual yang penuh makna. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mereka membuktikan bahwa keyakinan dan keikhlasan mampu membuka jalan yang sebelumnya terasa mustahil.
Di akhir perbincangan, Said dan sang istri memohon doa dari keluarga, sahabat, dan masyarakat luas agar diberikan kesehatan serta kelancaran selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
“Doakan kami ya. Semoga pulang bisa jadi pribadi yang lebih baik. Dari kami, dua hamba yang pas-pasan di mata manusia, tapi dicukupkan oleh-Nya.
Labbaikallahumma Labbaik,” tutup Said dengan penuh haru.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa panggilan haji bukan hanya tentang kemampuan finansial, melainkan tentang niat, kesabaran, dan keyakinan kepada Sang Pencipta. (Razali)











