Aceh Utara – Memasuki minggu ketiga pascabencana banjir bandang dan tanah longsor, denyut kehidupan warga di Dataran Tinggi Gayo masih memprihatinkan. Akses jalan utama belum sepenuhnya pulih, warga dengan terpaksa menempuh puluhan kilometer dengan berjalan kaki demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Lintasan jalan KKA (Bener Meriah-Aceh Utara) kini telah menjadi satu-satunya urat nadi penghubung. Namun, jalur yang seharusnya dilalui kendaraan itu berubah menjadi lintasan lumpur dan bebatuan, hanya bisa dilewati dengan langkah kaki dan tenaga manusia.
Terpantau Kampung Seni Antara mendadak menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus simpul harapan masyarakat Gayo. Di lokasi ini, puluhan pedagang dari Lhokseumawe dan Aceh Utara menjajakan kebutuhan pokok seperti beras, tabung gas, BBM, telur, hingga ikan segar.
Untuk mencapai titik tersebut, warga Bener Meriah dan Aceh Tengah harus berjalan kaki berjam-jam melewati jalan rusak yang terdampak longsor dan banjir bandang. Di lintasan ini, tak ada sekat sosial. Pegawai kantoran, petani kopi, relawan, hingga ibu rumah tangga berjalan beriringan, berbagi lumpur dan lelah tanpa kendaraan dan tanpa keistimewaan.

Sebagian warga memikul beras, telur, dan BBM. Tak sedikit yang menggendong tabung gas di pundak. Meski gerimis hujan membasahi tubuh dan jalan licin menyulitkan langkah, mereka tetap melanjutkan perjalanan demi memastikan dapur keluarga tetap menyala.
“Beli beras sama telur. Di kampung sudah habis, makanya kami jalan ke sini,” ujar Hamidah, warga yang ditemui di tengah perjalanan.
Nasib serupa dialami Herman. Ia harus kembali dengan tabung gas kosong di pundaknya. “Kami sudah capek bawa tabung gas, ternyata di sana juga habis. Terpaksa beli sembako saja, tabungnya dibawa pulang lagi,” ucapnya.
Di sisi lain lintasan, ratusan petani cabai tampak mondar-mandir memikul hasil panen. Setiap petani membawa beban seberat 23 hingga 35 kilogram. Mereka berjalan menuju titik temu di Kampung Seni Antara, tempat kendaraan dari Lhokseumawe dan Aceh Utara menunggu.
Perjalanan panjang itu ditempuh karena harga cabai di luar daerah jauh lebih tinggi dibandingkan di kampung halaman. Di tengah keterbatasan akses yang telah berlangsung tiga pekan, memikul hasil panen menjadi satu-satunya cara memperoleh penghasilan.
“Kalau menunggu jalan dibersihkan, cabai kami keburu busuk. Jadi satu-satunya cara ya dipikul,” ujar Rian, salah seorang pemuda sambil menahan beban di pundaknya.
Ia mengungkapkan, harga cabai di Bener Meriah anjlok hingga Rp 10 ribu per kilogram, sementara di Lhokseumawe bisa mencapai Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram.
“Dari sini kami harap bisa bawa pulang beras dan telur untuk keluarga,” katanya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kabupaten Bener Meriah, Alfahmi, mengatakan perbaikan jalan lintas KKA terus dilakukan. Sejumlah titik longsor dan badan jalan yang sempat terputus kini mulai tersambung.
“Namun masih ada beberapa titik yang belum sempurna dan membutuhkan material tambahan. Untuk sementara, jalur KKA masih diberlakukan sistem buka-tutup,” ujarnya.
Warga pun berharap perbaikan akses jalan segera rampung, agar distribusi hasil pertanian dan aktivitas ekonomi dapat kembali normal. Hingga saat itu tiba, langkah kaki dan tenaga manusia masih menjadi tumpuan utama bertahan hidup di dataran tinggi Gayo.














